Halaman

Jumat, 25 April 2014

Memaknai Hidup

Tahukah Anda, kisah seorang ibu sukses namun beliau merasa gagal?
Hidup ibu itu sebenarnya berkecukupan secara materi. Setiap bulan beliau mendapat uang pensiunan dari alamarhum suaminya, dan uang sewa (kost) dari menyewakan beberapa kamar di rumahnya. Di samping itu, walaupun tidak rutin setiap bulan, anak-anaknya juga suka memberi uang (santunan) kepadanya.
Hidup anak-anaknya juga lumayan mapan. Anak pertama, Wati (nama samaran), berpofesi sebagai perawat, hidup bahagia bersama suami dan anak-anaknya di luar kota. Anak kedua, Wawan (nama samaran), sebagai pengusaha juga hidup sejahtera bersama istri --wanita karier—dan anak-anaknya di luar kota pula.
Lalu mengapa beliau merasa gagal?
Perasaan gagal ibu itu muncul sesaat setelah meninggalnya sang suaminya. Setelah membaktikan dirinya –terutama—selama sebulan lebih dalam mengurus sang suami yang sakit keras, dan tak sadarkan diri. Dimana, selama itu beliau sendirian mengurus suaminya: memandikan, mencuci pakaian, memberi makan berupa asupan susu melalui selang (sonde) setiap tiga jam sekali, memberikan obat, menyuntikkan insulin, dan lain-lainnya.
Semula ada orang yang membantu –si mbak, sebagai PRT—namun ia kemudian minta pulang dulu, dan tak pernah kembali lagi. Mungkin saja, si mbak tidak betah karena pekerjaannya semakin berat dengan sakitnya sang bapak-majikannya. Maka, tergambarlah betapa semakin capek fisik dan mentalnya sang ibu! Meskipun demikian, sang ibu tetap mengurus sang suaminya dengan penuh khidmat dan ketulusan.
Dari sinilah, kemudian sang ibu merasakan kegagalannya. Terutama, pada saat suaminya tengah sakit dan tak berdaya seperti itu. Beliau benar-benar membutuhkan arti kehadiran anak-anaknya. Lebih-lebih bisa menanggung beban fisik dan psikis bersama.
Namun, kedua anaknya merasa sibuk. Wati –yang memiliki keterampilan sebagai perawat seharusnya berkesempatan mengabdikan dirinya—merasa sibuk dan berdalih tidak (berani) meninggalkan pekerjaannya karena takut dipecat dari instansinya. Demikian pula, Wawan dan istrinya juga merasa sibuk dengan pekerjaannya dan lebih merasa cukup dengan bantuan uangnya.
Sepeninggalnya sang suami, persoalan sang ibu tersebut kemudian berubah. Kecemasannya semakin membesar, siapakah yang akan merawat dirinya? Beliau tidak mungkin pindah rumah dan ikut anak-anaknya. Karena, di rumah mereka masing-masing sudah tinggal besan-besannya sehingga tidak mampu menampungnya dan terasa tidak nyaman. Padahal, sang ibu memiliki penyakit kambuhan, yaitu jantung dan darah tinggi.
Lantas, apa yang salah?

***


Pada umumnya anak dibentuk pola pikirnya (mindset) sejak kecil untuk meraih cita-citanya. Misalnya dengan pertanyaan: “Kalau sudah besar, ingin jadi apa, nak?”
Pada umumnya anak akan (terlatih dan terbiasa) menjawabnya dengan menyatakan cita-citanya seperti ingin jadi dokter, insinyur, pilot, penyanyi, artis, dan sebagainya. Jawaban-jawaban ini secara tidak sadar tertanam kuat di lubuk hatinya, bahkan bisa menjadi pola pikir (mindset) dan tujuan hidupnya. Masalahnya, cita-cita sebagai profesi keahlian/pekerjaan dengan tujuan hidup itu amat berbeda.
Ketika cita-citanya belum tercapai maka konsentrasi anak sepenuh hidupnya bisa jadi hanya belajar/kerja dan upaya-upaya untuk pencapaian cita-cita tersebut. Ketika sudah tercapai cita-citanya maka segala daya upaya juga difokuskan kepada pertahanan dan peningkatan karier di masa depan. Sehingga, sepanjang hidupnya ia berporos pada materi (money oriented) dan perhitungannya selalu logis matematik berdasarkan untung ruginya.

Apa jadinya?

Ketika kesuksesan demi kesuksesan (materi) telah diraih hingga menjadi hal biasa, dan kenikmatan demi kenikmatan (duniawi) telah dikenyam hingga membosankan, maka seseorang berupaya menciptakan cara-cara baru lainnya untuk mengecap kenikmatan ragawi. Hal ini nampak pada gerakan kaum hippies, generasi bunga (flower generation), dan sebagainya.
Hippie adalah sebuah kultur yang muncul di Amerika Serikat sekitar tahun pertengahan 1960-an. Mereka biasa mendengarkan musik psychedelic rock. Terkadang para hippie menggunakan narkoba dan ganja yang dapat memberikan mereka efek terbang sehingga merangsang imajinasi. Dalam sebuah imajinasi seseorang yang sedang dalam pengaruh narkoba biasanya terlihat hal-hal abstrak penuh warna-warni dan memberikan efek euphoria.
Ketika kegagalan demi kegagalan silih berganti dialami, kegetiran demi kegetiran terus dirasai hingga rasa pesimis, keluh kesah dan kebencian mendendam dalam hati dan penuh penyesalan; maka seseorang mudah berbuat nekad serta seringkali melanggar aturan dan kesusilaan.
Walhasil,  bila persoalan makna (tujuan) hidup ini diserahkan kepada kehendak dan pikiran manusia –bagaimana saja enaknya—maka manusia tidak akan menemukan jawabannya dan tersesat. Petualangan jiwa manusia dan kemampuan berpikirnya tidak akan menjangkau hakikat penciptaannya ataupun makna dari hidupnya. Karena yang menciptakannya bukanlah dirinya sendiri.
Allah Swt, Pencipta semesta alam ini, sungguh Maha Pengasih Lagi Penyayang. Agar tidak tersesat dan terkecoh dalam kehidupan ini, manusia diberitahu akan hakikat makna/tujuan hidupnya oleh Allah Swt. Bahwa, tujuan hidup manusia di dunia hanyalah mencari/meraih ridha-Nya. Menjadikan ridha Allah sebagai tujuan tertinggi yang harus dirindukan. Allah Swt berfirman (yang artinya):
Kamu lihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya” (QS. Al-Fath: 29).
Adapun keridhaan Allah Swt tidak akan bisa diraih oleh seorang mukmin, kecuali ia berkomitmen penuh untuk melaksanakan seluruh perintah-Nya dan menghindarkan diri dari segala larangan-Nya. Segala konsekuensi yang timbul dari komitmen dan pelaksanannya akan diabaikan, serta tidak akan menggelisahkan dan menggoyahkannya.

Memang, Islam telah mengajarkan kita untuk memaknai segala aspek kehidupan ini dengan ibadah. Akan tetapi, Islam juga mendorong kita untuk mengambil bagian dari dunia ini.
Dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi” (QS. Al-Qashash: 77).
Betapapun demikian, Islam mensifati dunia ini sebagai sesuatu yang tidak lebih berharga di sisi Allah Swt untuk dijadikan tujuan akhir kehidupan atau sebagai puncak dari obsesi, cita-cita dan ambisi manusia. Dunia hanyalah titian tangga, dan sekadar jalan penghantar menuju akhirat.

Oleh karena itu, apalah artinya sebuah kesuksesan di bidang akademik/bakat dan bergelimang harta benda bila kemudian sang ibu tidak meridhai. Bukankah keridhaan orangtua adalah keridhaan Allah Swt?
Akankah kita menjadi “Wati” atau “Wawan” yang telah dimaknai hidupnya hingga dewasa dan mandiri oleh orangtuanya, namun enggan memaknai hidup orangtuanya walaupun tak seberapa lama?
Akankah kita mengulangi kesalahan-kesalahan dalam mendidik anak sehingga menjadikan putra-putri kita seperti para pencari kenikmatan ragawi semata?
          Na’udzubillahi min dzalik.

Terkadang kita di hadapkan pada pilihan yang amat sulit.  Sulit dalam mengurai suatu persoalan yang sebenarnya hingga menghasilkan solusi-solusi yang terbaiknya. Karena, untuk meraih keridhaan Allah Swt, kita harus mengetahui hakikat persoalannya dan status hukumnya (di sisi Allah Swt).

Terkadang juga sulit dalam menerima atau menanggung konsekuensi yang ditimbulkannya. Karena, boleh jadi kita harus meninggalkan kenikmatan, perhiasan dan gemerlap dunia atau menjadikannya jalan penghantar, bukan sebagai tujuan akhir. Allah Swt berfirman (yang artinya):
“Katakanlah: Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluarga,  harta benda yang kamu usahakan, dan perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (daripada) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak akan memberi pertunjuk kepada orang-orang yang fasik”. (QS. At-Taubah: 24).
Wallahu a’lam bish-shawwab.

1 komentar: